Label

Selasa, 11 Desember 2012

Toilsome!

Aku malu mengatakan ini
Sepatah dua patah kata yang terurai dari mulut ini

Aku.. Menyerah.
Aku menyerah dengan semua kemunafikan ini
Aku ingin berhenti dari kejaran waktu
Aku ingin berhenti dari bayang-bayang ketidakpastianmu
Aku ingin mengakhiri semua ini
Aku tidak cukup kuat menunggumu
Tidak cukup kuat untuk menahan rasa ini

Aku lemparkan senyuman kau balas dengan tatapan kosong
Aku lemparkan kebahagiaan kau balas dengan tatapan kosong
Aku lemparkan warna tawaku dan kau hanya diam

Aku lelah.
Sungguh lelah dengan responmu yang datar
Lelah dengan wajahmu yang tanpa ekspresi
Lelah dengan sikap acuh mu

Aku yakin kau pasti paham dengan signalku
Aku yakin kau mengerti dengan maksudku
Aku yakin kau tahu jelas dengan perasaanku

Mungkin hanya saja hatimu yang belum bisa terbuka
Dan.. Aku mulai memahami nya

Senin, 12 November 2012

I'm Happy with my Troublesome !

                Aku ingin berteriak. Ingin sekali. Mungkin ini masa-masa berat, namun bagaimanapun juga aku harus melewatinya. Hm mungkin aku perlu "doping", sangat perlu. Entah dimana, siapa, bagaimana aku bisa mendapatkannya. Aku telah lelah mencari, berbagai cara, aku coba. Tapi aku tidak bisa berbohong, kalau nyatanya, cuma kamu yang bisa menjadi "doping" untukku. Cuma kamu, cuma kamu, cuma kamu. Aku ingat waktu aku selalu diam murung, aku ingat waktu aku selalu menggerutu mengeluh, saat itu aku tak sadar, ternyata kau sudah datang "mengulurkan" tanganmu untukku secara tidak langsung. Namun aku tidak mau terlihat lemah, aku ingin selalu ceria dan kuat. Aku mau, selalu bisa membuatmu tersenyum dan semangat!
               Waktu tidak lama lagi. Waktu untuk mendapatkan jawaban. Apa aku harus tetap menunggumu, atau harus berhenti. Masih beberapa minggu lagi, namun rasanya seperti masih beberapa tahun lagi. Setiap hal yang menyangkut dirimu, selalu saja "memaksa"ku untuk menunggu. Entah menunggu jawaban, menunggu pesan, menunggu mimpi, menunggu apa saja itu, selagi berbau dirimu. Aku senang, juga bodoh rasanya. Haha. Saat segenting ini, aku masih bisa menulis beberapa ratus kalimat disini. Ya, inilah yang bisa ku lakukan saat aku sedang merindukanmu, atau merindukan seseorang wanita yang sudah melahirkanku. Ini pelarianku, dan aku menikmatinya.
               Aku senang bisa membuat hubungan kita semakin akrab, aku senang dengan semua yang telah aku doakan selama ini. Aku senang Tuhan selalu menjaga hatiku. Aku senang. Aku senang sekali hari ini. Aku sangat senang malihat namamu tertera dengan jelas di layar gadgetku. Aku senang sekali karenamu hari ini. Tuhan, terima kasih untuk hari ini, terima kasih. Aku selalu setia, menunggu jawabanmu.

Show Dove's Love

Apa perlu ikan di samudera mengetahui perasaanku ini?
Apa perlu burung di udara mengetahui perasaanku ini?
Apa perlu semua benda langit mengetahui perasaanku ini?
Apa perlu semua makhluk yang bernafas mengetahui nya?
Apa perlu aku umbar-umbar semua ini?

Aku tak ingin seperti putri yang hanya bisa diam menunggu pangeran berkuda putihnya datang
Aku tak ingin seperti putri yang hanya bisa diam menunggu pangeran datang membawakan sepatu kacanya
Aku tak ingin seperti putri yang hanya bisa diam menunggu pangeran menciumnya sampai ia terbangun
Aku tak ingin seperti putri yang hanya bisa diam menunggu pangeran menyelamatkannya dari menara tinggi

Memang ini mustahil
Memang ini tak masuk akal
Memang ini menakutkan
Memang ini mengharukan

Bagiku, ini adalah tantangan untukku
Tantangan menunggumu untuk dapat mengutarakan semua isi perasaanku selama ini
Semuanya pun tahu bagaimana perasaanku
Semuanya pun tahu bagaimana penantianku

Pahit. Manis. Pedas.
Manis. Pedas. Pahit.
Pedas. Pahit. Manis.

Menunggumu?
Sama artinya dengan menunggu kebahagiaanku.

Senin, 29 Oktober 2012

Angry Dove

Rasanya aku ingin berlari
Berlari terus berlari mencari kebenaran sejati,
Mengejar kebijakan abadi, keadilan yang pasti
Melewati semua cendikiawan yang piawai
Ingin rasanya. Ingin.
Keluar dari pusaran ini
Menembus selaput fitnah
Menghantam dinding ketegasan
Dimana semua keadilan? Kebenaran?
Kebijakan yang dinanti-nanti?
Aku mencari dan tidak kutemukan di hati maupun di pikiran manusia.
Menghilang seperti asap transparan,
Dan hanya bisa merutuk pada takdir.

Kamis, 25 Oktober 2012

Dove is Falling in Love

Kalau aku hujan, apakah kau mau menjadi genangan air?
Kalau aku embun, apakah kau mau menjadi daun?

Kalau aku sakit, apakah kau mau menuntunku?
Kalau aku duka, apakah kau mau menghiburku?

Bukan belas kasihan yang aku tekankan
Melainkan ketulusanmu

Wait for Paris

Apa yang sebagian orang pikirkan ketika melihat gambar ini?


Atau mungkin saat mendengar kata "PARIS" ?
Mungkin ada yang menjawab "romantis", "indah", "menakjubkan", "surga", "istimewa" atau kata-kata ungkapan lainnya.

Memang benar, kota Paris, Eiffel Tower, sangatlah membuat kita takjub akan keindahannya. Kental akan keromantisannya, dan itulah yang membuatnya istimewa sehingga mengesankan kita kalau kota Paris adalah surga bagi para penikmat cinta.

Menurutku, tak hanya itu semua, saat aku membayangkan, memikirkan, atau meilhat kota tersebut hanya melalui layar kaca, aku merasakan kedamaian yang bersifat sementara.
Entah seperti mereka yang sengaja menghipnotis aku atau aku yang tak sadar diri terhipnotis oleh mereka.
Aku menyukai, oh tidak. Bukan hanya menyukai, melainkan amat merindukan tempat tersebut.
Aku memang merindukan hari dimana aku dapat melihat Paris lebih dekat dan nyata pada waktu malam, tapi tak hanya itu.

Yang aku rindukan, aku dapat menikmati Paris bersama seseorang yang aku nanti-nanti.

Rabu, 24 Oktober 2012

Let Your Actions Louder Than Your Words!

Mungkin kadang kita melihat sekeliling, hidup ini sebenarnya sangat kejam. Dimana keadilan dan kenyamanan tidak pernah bersatu, dimana kebijakan dengan logika tidak pernah bertemu. Entah aku tidak pernah habis pikir dengan jalan pemikiran mereka. Orang menggunakan kekuasaan hanya demi gengsi semata, bukan demi tanggungjawab yang sudah selayaknya mereka kerjakan.

Mungkin mereka bijak, namun aku tidak bisa melihatnya sama sekali. bagaikan burung hantu yang buta di tengah malam. Mungkin mereka berlebihan, namun tidak ada yang mengaku. Sebenarnya apa tujuan mereka? Mereka yang mengambil semua keputusan dengan cepat, lebih cepat dari pada membalikkan telapak tangan. Tanpa memikirkan resiko, dan pandangan orang-orang terhadap mereka.

Mereka ingin "dilihat". Mereka ingin membuat sesuatu yang wow dengan kedudukan mereka sekarang. Mereka yang tidak pernah memikirkan jalan panjangnya, dan dampak dari kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Mereka memalukan dimataku.

Mungkin aku harus menunggu beberapa dekade lagi, untuk melihat seberapa berhasilkah mereka. Seberapa berhasilkah mereka dalam menggunakan cara seperti ini. Mungkin saat itu, perasaan ini masih membara. Masih membara sama seperti saat ini aku yang sedang mengutarakannya. Mungkin ini abstrak, namun aku ingin membuat perubahan dengan ke-abstrak-an ku.